Thursday, April 25, 2024
BerandaTNI/PolriCalon Panglima TNI: Jokowi Pilih Kanan atau Kiri?

Calon Panglima TNI: Jokowi Pilih Kanan atau Kiri?

progresifjaya.id, JAKARTA – Selain pengganti Kapolri, bursa calon Panglima TNI juga mulai ramai dibahas. Kebetulan, kemarin pagi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) jalan pagi dengan tiga Kepala Staf TNI: Kasad Jenderal TNI Andika Perkasa, Kasal Laksamana TNI Yudo Margono, dan Kasau Marsekal TNI Fadjar Prasetyo, di Istana Bogor. Kalau harus segera pilih Panglima TNI baru, Pak Jokowi pilih yang di kanan apa yang di kiri ya?

Presiden dan tiga Kepala Staf itu berolahraga bersama sekitar pukul 8 pagi. Mereka berjalan santai mengelilingi Kebun Raya Bogor. Mereka mengenakan masker, berjalan berjejer dengan jarak sekitar 1 meter.

Marsekal Fadjar, yang mengenakan kaos polo biru, ada paling kanan. Kemudian, Jenderal Andika, yang mengenakan kaos hijau loreng, berjalan di sebelah kanan Jokowi. Sementara, Laksamana Yudo Margono, yang mengenakan kaos polos putih berkerah biru dongker, berjalan di sebelah kiri Jokowi.

Setelah berolahraga selama kurang lebih 30 menit, Jokowi beserta Kepala Staf TNI kembali ke gedung Induk Istana Kepresidenan Bogor. Mereka berbincang di beranda Istana. Di meja, ada suguhan air mineral dan minuman berion.

Marsekal Fadjar, duduk sendirian di sisi kanan Jokowi. Sementara Andika dan Yudo duduk bersebelahan di sisi kirinya. Spekulasi pun muncul. Santer kabar kehadiran tiga pemimpin tiga Matra TNI itu adalah strategi Presiden Jokowi dalam mencari pengganti Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto, yang akan memasuki masa pensiunnya Desember 2021.

Ketiganya menyatakan tak membicarakan soal itu. Mereka kompak menyatakan, yang dibicarakan Presiden adalah percepatan penanganan Covid-19 di Indonesia. Tetapi, spekulasi pengganti Hadi Tjahjanto sebagai pucuk pimpinan tertinggi TNI itu sudah berkembang sejak bulan lalu.

Beberapa pengamat menyebut, Andika dan Yudo yang paling berpeluang menduduki jabatan Panglima TNI. Pengamat Militer dan Intelijen Susaningtyas Kertopati menyebut, berdasarkan Pasal 13 ayat 4 UU nomor 34 tahun 2004, jabatan Panglima TNI dapat dijabat oleh Pati aktif yang sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan. Artinya, Kasad, Kasal dan Kasau memiliki peluang yang sama untuk menjabat Panglima TNI.

Tetapi, ada tradisi bergantian antar Matra untuk menjabat Panglima TNI. Karena Hadi Tjahjanto berasal dari TNI AU, maka kemungkinan penggantinya berasal dari TNI AD atau TNI AL.

“Probabilitasnya sama dari ketiga Matra TNI. Hanya saja, oleh karena Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dari TNI AU, maka kita bisa berspekulasi bahwa penggantinya bisa dari TNI AD atau TNI AL,” ujar Nuning, sapaan akrab Susaningtyas, kemarin.

Tetapi, Nuning mengingatkan, hanya Presiden yang berhak menentukan siapa yang akan menjabat. Hak prerogatif Presiden tersebut tidak dapat diintervensi oleh siapa pun.

Menurutnya, ada tiga hal penting yang harus dijadikan pertimbangan dalam memilih Panglima TNI. Pertama, usia dan prestasi kerja. “Sangat penting untuk menentukan proyeksi masa jabatan Panglima TNI minimal 2 tahun ke depan untuk menjaga proses regenerasi,” tutur Nuning.

Pengalaman menunjukkan, ada beberapa perwira cemerlang yang tidak sempat menjabat karena terhalang seniornya yang belum pensiun. “Padahal, untuk jabatan sestrategis Panglima TNI tidak harus menunggu usia pensiun,” imbuhnya.

Apalagi, jika dipertimbangkan prestasi kerja selama dinas. Ukuran prestasi kerja yang memang belum standar menyebabkan banyak spekulasi yang hanya berdasarkan rekam jejak pengalaman dinas. Kedua, pertimbangan kebutuhan organisasi TNI dalam kurun waktu ke depan sebagai bagian modernisasi alutsista, sehingga dibutuhkan kemampuan manajemen tempur dan diplomasi militer yang andal.

Ketiga, pertimbangan perkembangan lingkungan strategis pada tataran global dan regional. Dibutuhkan sosok Panglima TNI yang memiliki dampak penangkalan bagi petinggi militer internasional. “Penting sekali jika Panglima TNI disegani dunia Interna sional,” tegas Nuning.

Pengamat Militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Khairul Fahmi punya pandangan serupa. Yakni, mempertimbangkan usia. Menurut Fahmi, masa dinas aktif Yudo lebih panjang setahun dari Andika. Yudo kini berusia 55 tahun, Andika 56 tahun. Sementara, perwira TNI pensiun pada usia 58 tahun. Hadi sendiri baru akan pensiun jelang akhir tahun depan, ketika Andika sudah berusia 57 tahun.

“Jika pergantian Panglima TNI dilakukan dalam waktu dekat, maka KSAD yang berpeluang lebih besar,” ujar Fahmi.

Fahmi mengingatkan, masa jabatan yang terlalu singkat atau terlalu panjang di puncak akan berdampak kurang bagus untuk organisasi. “Makanya, kalau pengen Andika jadi panglima, mestinya nggak nunggu Pak Hadi pensiun baru diganti,” tuturnya.

Paling tidak, sebelum pertengahan tahun 2021, Panglima TNI sudah harus diganti. “Jika lebih dari itu, di atas kertas, KSAL Yudo Margono akan lebih berpeluang, tetapi peluang KSAD ju ga tidak tertutup,” tandas Fahmi.

Wakil Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari mengatakan, sampai saat ini, belum ada pembicaraan soal pergantian Panglima TNI. “Biasanya, kalau ada pergantian akan ada Surat Presiden yang ditujukan kepada kami. (Setelah itu) nanti kami akan melakukan fit and proper test,” kata Abdul.

Editor: Hendy

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru