Sabtu, Desember 10, 2022
BerandaBerita UtamaIndonesia Masih Masuk 100 Negara Termiskin di Dunia: Yang Kaya Makin Kaya...

Indonesia Masih Masuk 100 Negara Termiskin di Dunia: Yang Kaya Makin Kaya Yang Miskin Makin Miskin

progresifjaya.id, JAKARTA – Ingat lagu dangdut Rhoma Irama di era tahun 1990-an yang dalam liriknya menyebutkan; Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin?

Nah fenomena itu memang terjadi di Indonesia, meski jika dipandang sepintas lebih banyak orang kaya, terutama di kota-kota besar seperti di Ibukota negara DKI Jakarta.

Hal ini bisa dilihat keseharian kesibukan orang-orang kaya, utamanya di kota metropolitan. Mereka bekerja dan memiliki kantor-kantor mewah di gedung-gedung pencakar langit untuk mengelola bisnisnya.

Bisa dilihat pula di jalan raya kemacetan yang begitu parah sepanjang hari karena dipenuhi mobil-mobil mewah yang harganya miliaran rupiah. Kendaraan tersebut berseliweran di jalan raya maupun di jalan berbayar seperti jalan tol dalam kota.

Sebaliknya warga miskin terlihat berdesakan di transportasi umum seperti busway, kereta listrik dan angkutan kota lainnya. Pemandangan ini bisa disaksikan saat jam pulang kantor sekira pukul 17.00 sampai pukul 20.00 WIB. Sungguh jomplang dipandang mata.

Tidak itu saja, orang-orang kaya bermukim di rumah-rumah dan apartemen mewah dengan harga puluhan bahkan ratusan miliar di kawasan elit di Jabodetabek.

Sebagai contoh kongkrit adalah Pantai Indah Kapuk (PIK) kawasan para taipan atau konglomerat bermukim di sana. Juga Bumi Sepong Damai (BSD), Gading Serpong dan Bintaro serta Lippo Karawaci di Tangerang.

Termasuk juga kawasan Kelapa Gading Sumarecon di Jakarta Utara, Bekasi, Bogor maupun Tangerang. Belum lagi di kawasan Lippo dan Citra Raya Ciputra yang tersebar di Jabodetabek serta masih banyak pemukiman mewah lainnya.

Sementara itu, orang-orang miskin seperti tertutup oleh banyaknya orang kaya. Padahal  ternyata jauh lebih banyak, mereka paling banter hanya punya kendaraan sepeda motor, itupun dibeli dengan kredit jika nunggak cicilannya langsung dijegat dan ditarik di jalah oleh Mata Elang (Mate).

Tidak seperti orang kaya yang tinggal di apartemen mewah, orang miskin tinggal di rumah susun (rusun) yang tersebar di wilayah Jabodetabek.

Banyak juga yang bermukim di kawasan kumuh dan gang sempit seperti di daerah Tanjung Priok, Semper, Pulo Gadung dan wilayah pemukiman di kantong-kantong kawasan perumahan mewah di Jabodetabek.

Mirisnya, tempat tinggal mereka  berdempet-dempet dan sempit, bahkan ada rumah dengan luas 12 meter persegi dihuni  lebih dari 5 sampai 10 orang.

Aktifitas keluarga dilakukan di situ, mulai dari tidur, mandi dan masak termasuk melakukan hubungan suami isteri sekalipun. Pekerjaan mereka umumnya sebagai buruh pabrik milik konglomerat, di samping berusaha di sektor informal dengan berdagang atau berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Hal ini bisa dilihat dengan menjamurnya pedagang makanan di pinggir-punggir jalan. Mulai dari nasi goreng, ketoprak, pecel lele, soto ayam dan masih banyak kuliner-kuliner khas daerah yang berserakan di dekat keramaian seperti di sekitar pasar dan mal.

Atas hal itu, tidak heran Indonesia masih termasuk dalam 100 negara paling miskin di dunia. Namun demikian masih untung tidak masuk 10 negara paling miskin.

Ternyata kemiskinan ini diukur dari Gross National Income (GNI) atau pendapatan nasional bruto per kapita. Artinya pendapatan orang miskin dan orang kaya digabung hingga bisa diperoleh pendapan rata-rata per kapita.

Padahal sesungguhnya pendapatan orang miskin dan orang kaya bagai jurang yang menganga, sangat jauh.

Orang miskin pendapatannya masih bisa dihitung, yakni sebesar upah minimum regional (UMR) paling-paling di bawah Rp 5 juta perbulan. Sedangkan orang kaya minimal 10 kali lipat, bahkan mencapai ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Seperti pejabat-pejabat negara misalnya, mereka berpenghasilan sangat tinggi karena banyaknya tunjangan dan fasilitas yang diberikan kepada mereka. Belum lagi di luar dari itu yang sudah pasti lebih besar dari gaji pokok.

Seperti dilansir CNNIndonesia yang mengutip World Population Review, Indonesia masuk dalam urutan ke-73 negara termiskin di dunia. Pendapatan nasional bruto RI tercatat US$3.870 per kapita pada 2020 dan ini bisa diasumsikan dalam kurs dolar AS Rp 15 ribu dapat dihitung jumlahnya masih masih rendah.

Sementara, mengutip gfmag.com, Indonesia menjadi negara paling miskin nomor 91 di dunia pada 2022. Hal ini diukur dengan produk domestik bruto (PDB) atau gross domestic product (GDP) dan purchasing power parity (PPP) atau keseimbangan kemampuan berbelanja. Tercatat, angka PDB dan PPP RI sebesar US$14.535.

Posisi ini masih lebih baik dari beberapa negara di Asia Tenggara yang masuk di daftar 100 negara termiskin, seperti Vietnam yang berada di urutan ke-82, Filipina ke-72, Kamboja ke-46, Myanmar ke-45, dan Timor Leste ke-29.

Sebelumnya, Bank Dunia (World Bank) mengubah batas garis kemiskinan. Hal ini membuat 13 juta warga Indonesia yang sebelumnya masuk golongan menengah bawah menjadi jatuh miskin. Hal ini terungkap dalam laporan ‘East Asia and The Pacific Economic Update October 2022’.

Basis perhitungan terbaru ini mengacu pada keseimbangan kemampuan berbelanja pada 2017. Sementara, basis perhitungan yang lama adalah keseimbangan kemampuan berbelanja 2011.

Batas garis kemiskinan Bank Dunia tersebut tentu berbeda dengan yang menjadi acuan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam basis perhitungan terbaru, Bank Dunia menaikkan garis kemiskinan ekstrem dari US$1,9 menjadi US$2,15 per kapita per hari.

Dengan asumsi kurs Rp15.216 per dolar AS, maka garis kemiskinan ekstrem Bank Dunia adalah Rp32.812 per kapita per hari atau Rp984.360 per kapita per bulan.

Sementara itu, BPS mengartikan garis kemiskinan sebagai cerminan nilai rupiah pengeluaran minimum yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya selama sebulan, baik kebutuhan makanan maupun non-makanan.

Garis kemiskinan terdiri dari garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non-makanan (GKNM).

Garis kemiskinan yang digunakan BPS pada Maret 2022 tercatat Rp505.469,00 per kapita per bulan dengan komposisi GKM sebesar Rp374.455,00 (74,08 persen) dan GKNM sebesar Rp131.014,00 (25,92 persen).

Jadi pendapatan per kapita hanya dilihat dari seluruh rakyat Indonesia, hingga jumlahnya relatif sedikit. Padahal, kenyataannya orang-orang kaya pendapatannya bisa lebih dari Rp 100 juta perbulannya.

Sedangkan orang miskin hanya bisa mengantongi penghasilannya Rp 1 juta rupiah saja seperti yang diperhitungkan bank dunia.

Itulah fenomena yang terjadi di Indonesia, hingga nyanyian raja dangdut Rhoma Irama “Yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin” tidak bisa dibantah. (Isa Gautama)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru