Jumat, Desember 9, 2022
BerandaBerita UtamaKapolda Jatim Sebut Tembakan Gas Air Mata Sesuai Prosedur, Namanya Pernah Disorot...

Kapolda Jatim Sebut Tembakan Gas Air Mata Sesuai Prosedur, Namanya Pernah Disorot Kasus Ferdi Sambo

progresifjaya.id, JAKARTA – Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta tengah jadi sorotan setelah mengemukakan pendapatnya tentang tragedi Kanjuruhan.

Nico mengatakan jika penembakan gas air mata yang dilakukan oleh aparat pada laga Arema vs Persebaya sudah sesuai prosedur.

Menurutnya, itu adalah salah satu upaya untuk menghalau massa bertindak anarkis.

Tapi menurut aturan FIFA, gas air mata tidak lagi boleh digunakan di lapangan apapun yang terjadi. Sebab gas ini akan menimbulkan efek buruk bagi mereka yang terkena.

Terdapat statuta Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) yang melarang penggunaan gas air mata dalam pengamanan pertandingan sepak bola di stadion.

Pasal 19 b (Fifa Stadium Safety and Security Regulation) tentang petugas penjaga keamanan lapangan (Pitchside stewards), yang berbunyi:

“No firearms or ‘crowd control gas’ shall be carried or used (senjata api atau ‘gas pengendali massa’ tidak boleh dibawa atau digunakan).

“Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen,” kata Nico.

Tentu saja pernyataan Irjen Nico Afinta tersebut mendapat respons yang kurang begitu baik dari netizen.

Apalagi, viral video di media sosial di mana polisi melemparkan gas air mata ke tribun yang penuh sesak dengan penonton.

Kasus Ferdy Sambo

Irjen Nico Afinta bukan kali pertama mendapat sorotan publik, sebelumnya dia juga disorot karena diduga ada hubungan soal kasus Ferdy Sambo.

Melansir dari Tempo, Nico diduga terlibat setelah dia bertemu dengan Kapolda Metro Jaya Irjen Fadil Imran dan Kapolda Sumatera Utara Irjen R.Z. Panca Putra Simanjuntak.

Dalam pertemuan tersebut, ketiganya disebut bersekongkol dan berbagai tugas untuk menyebarkan “informasi palsu” soal pembunuhan Ferdy Sambo.

Nico membagi tugas dengan dua rekannya untuk menyebarkan informasi tembak-menembak dan pelecehan seksual yang dilakukan Brigadir J.

“Nico dan Panca bertugas melobi para pejabat utama Polri, seperti Komisaris Jenderal Agung Budi Maryanto dan Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Agus Andianto,” tulis Majalah Tempo pada Sabtu (3/9/2022).

Ketiga petinggi tersebut akan diperiksa mengenai keterkaitannya dalam membantu Ferdy Sambo.

“Menurut seorang perwira, mereka meminta para seniornya itu tak terlalu ‘kencang’ mengusut kematian Yosua,” lanjutnya. (Red)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru