Monday, July 15, 2024
BerandaBerita UtamaKasus Penggelapan 12 Kg Sabu di Polda Sumut: Pengacara Tersangka, Safaruddin Tolak...

Kasus Penggelapan 12 Kg Sabu di Polda Sumut: Pengacara Tersangka, Safaruddin Tolak ‘Disogok’ Rp 3 Miliar

progresifjaya.id, JAKARTA – Pengacara tersangka kasus narkoba M Yakob bernama Safaruddin membongkar percobaan penyogokan terhadap dirinya yang dilakukan oleh oknum berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP).

Tidak tanggung-tanggung, pengacara itu ditawari uang Rp 3 miliar agar tidak mengadu lagi soal dugaan penggelapan barang bukti 12 kg sabu yang diduga melibatkan 9 polisi Ditresnarkoba Polda Sumatera Utara (Sumut).

“Jadi usai saya membuat laporan ke Mabes Polri ada personel berpangkat AKBP yang menghubungi malam-malam. Dia ini minta bantu dan bilang kalau tidak terjadi kesepakatan, komunikasi itu dianggap tidak ada,” kata Safaruddin seperti dilansir detik.com, dua hari lalu.

Dia menyampaikan, komunikasi itu berlangsung pada 9 Mei 2023, yakni satu hari sebelum dirinya akan diperiksa Propam Polda Sumut. Tawaran itu disampaikan oknum tersebut melalui pertemuan langsung dan saluran telepon.

“Dia minta saya mengubah statemen dari angka sabu 32 kg menjadi 20 kg. Awalnya dia bilang mau kasih Rp 1 miliar, tapi saya tidak mau. Lalu, naik lagi, Rp 3 miliar. Setelah itu saya tidak mau berkomunikasi lagi. Karena mau berapa pun saya tidak mau,” ucap Safaruddin.

Di lain pihak, Dirresnarkoba Polda Sumut Kombes Yami Mandagi menjelaskan sejauh ini belum mendapatkan informasi ada oknum yang berupaya untuk menyogok Safaruddin terkait dugaan penggelapan barang bukti tersebut.

“Kalau itu saya tidak tahu,” ucap Yemi.

Diketahui, Yakob adalah tersangka kasus narkoba yang ditangkap pada 30 Maret 2023 di Aceh bersama anak perempuannya berinisial EM (28). Yakob telah disangkakan pasal 112 dan 114 UU Narkotika dengan ancaman penjara seumur hidup.

Yakob pun mengungkapkan soal penggelapan barang bukti itu saat perkaranya sudah dilimpahkan ke kejaksaan.

Sebab, dia merasa tidak aman membongkarnya ketika masih berada di sel tahanan Polda Sumut, sehingga ia mulai menyampaikannya ketika sudah berada di Rutan Medan.

Sebelumnya Polda Sumut disorot atas dugaan penggelapan barang bukti 12 kg sabu dari tersangka narkoba M Yakob. Sembilan personel Polda Sumut pun dilaporkan ke Propam Mabes Polri.

Kronologi dugaan penggelapan 12 kg narkoba jenis sabu itu bermula ketika tersangka Yakob ditangkap  atas pengembangan kasus narkoba dua tersangka lainnya. Keduanya ditangkap dengan barang bukti 3 kg sabu pada 19 Maret 2023 di kawasan Kabupaten Langkat.

Sedangkan Yakob ditangkap di Komplek BTN Blang Raya, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe pada 30 Maret 2023 bersama dengan anaknya EM.

Setelah disidik dan diproses perkaranya, Polda Sumut kemudian menyerahkan barang bukti, berkas perkara dan tersangka Yakob ke kejaksaan pada 4 Mei 2023. Yakob dijerat pasal 112 dan 114 UU Narkotika dengan ancaman penjara seumur hidup.

Yakob yang sebelumnya ditahan di Polda Sumut lalu dipindah ke Rutan Medan sebagai tahanan kejaksaan. Di sanalah Yakob baru berani buka suara mengenai barang bukti yang digelapkan penyidik yang menangkap dan memeriksanya.

Pengacara tersangka, Safaruddin mengungkapkan, saat kliennya ditahan di Polda Sumut dia tidak berani angkat bicara karena takut, sehingga dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Polda, Yakob  terpaksa sebut barang bukti sabu yang disita hanya 20 kg, padahal sebenarnya 32 kg.

“Tapi ketika berkasnya dilimpahkan ke kejaksaan, Yakob baru bisa membuat surat pernyataan bahwa barang bukti yang disita ialah 32 kg. Surat itu juga kita sampaikan ke Mabes Polri,” ujar Safaruddin.

Ia menyebutkan pengaduan Yakob ke Mabes Polri diberikan dalam bentuk pengaduan masyarakat (Dumas) pada 9 Mei 2023.

“Kita berikan aduan masyarakat ke Divpropam Polri. Personel yang kita laporkan sesuai dengan nama yang ada di surat penangkapan, yakni 9 orang,” katanya.

Polda dan Irwasda sudah bergerak untuk melakukan investigasi apakah dugaan Yakob itu benar atau tidak. Sejauh ini ada beberapa personel Ditresnarkoba yang sudah diperiksa.

“Berdasarkan pertimbangan, situasi agak ramai namun waktu di TKP tetap disaksikan oleh kepala lingkungan dan hanya diperlihatkan satu dari karung. Barang buktinya difoto sekitar dua kilo dari lokasi ditemukan,” kata Dirresnarkoba Polda Sumut Kombes Yemi Mandagi,

Yemi menjelaskan barang bukti itu ditemukan di dalam kamar rumah anaknya EM. Ada pun Yakob ditangkap di rumahnya yang berbeda dan tidak jauh dari lokasi tersebut.

Di lain pihak, Safaruddin sebagai kuasa hukum Yakob mengatakan saat penangkapan situasi tidak terlalu ramai atau pun sampai mengancam petugas. Sebab, hanya beberapa tetangga dan kepala lingkungan yang menyaksikan kejadian itu.

“Kalau dibilang ramai sampai mengancam petugas tidak lah. Paling hanya beberapa tetangga dan kepala lingkungan yang melihat,” katanya.

Safaruddin mengungkapkan, petugas yang membawa Yacob dari Aceh ke Medan sempat berhenti di daerah Alue Le Puteh, sekitar pondok-pondok, untuk memfoto barang bukti tersebut. Ia mengungkapakan situasi Yakob saat itu terancam.

“Yakob diancam akan disiksa dan dihilangkan jika berbicara barang bukti itu 32 kg,dan harus menjawab 20 kg dalam BAP-nya,” ujarnya.

Sementara anak Yakob, EM menjelaskan mereka tiba di Polda Sumut pada malam hari usai ditangkap di Aceh. Ia dimintai keterangan oleh penyidik sedangkan Yakob langsung dibawa ke sel.

“Sehari setelahnya, saya ditahan, dimasukan ke sel, sampai selama enam hari. Kemudian saya dibebaskan dengan alasan tidak cukup bukti untuk ditahan,” ucapnya. (Isa)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru