Sunday, July 14, 2024
BerandaOpiniKPU ATAU QUICK COUNT

KPU ATAU QUICK COUNT

Oleh : Dr.,Drs. Mukhtadi El Harry, MM.,M.Sc.

Kalau masyarakat lebih percaya Quick Count lebih baik keluarkan Kepres (Keputusan Presiden) bubarkan KPU (Komite Pemilihan Umum) dan syahkan Quick Count, itu akan lebih efisien dan efektif, tidak perlu ada DRAKOR yang berseri seri.

Yang penting bangsa ini bisa makan dan minum susu gratis. Kalau gizi sudah terpenuhi, kapanpun bisa joget, “Men Sana In Corpore sano” di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.

Begitu saja ko repot……, tinggal bagi-bagi BANSOS, tidak punya uang tinggal hutang, kalau bisa dipermudah kenapa …dipersulit…….

Rakyat itu yang penting perutnya terisi, Kesehatannya terjamin, Pendidikan gratis, Transportasi tinggal naik angkutan online gojek serta grab dll, tinggal makan tidur makan tidur, sudah selesai, tidak mempersoalkan siapa pemimpinnya, selama kebutuhananya sudah terjamin tidak ada pemimpin pun jalan.

Rakyat kita kan sangat penurut, suruh apapun nurut, pajak naik, bensin naik, listrik naik semua naik tetap di bayar, tidak ada yang protes.

Penguasa tinggal buat UU sesukanya, mumpung sedang berkuasa, rakyat akan pasrah nerimo apa adanya.

Pelanggaran seberat apapun sangsinya cukup “Pelanggaran etik” dan produk pelanggaran hukumnya tetap berjalan, aneh tapi nyata, kesalahan fatal pun, cukup selesai dengan minta maaf, pura pura tidak tahu bahwa ulahnya sangat membahayakan merugikan bangsa dan negara.

Rakyat sudah terbiasa dibohongi, dan sudah memalumi, karena seringnya dibohongi sampai sampai tidak bisa membedakan mana yang bohong mana yang benar.

Kedzholiman, kejahatan, kemunafikan, dianggap hal biasa dan jangan coba coba, siapaaun yang berani meluruskan akan dibulying habis habisan, didiskreditkan, dicari kesalahannya, dijadikan pesakitan, dan disandera jadi tahanan luar, berani macam macam tinggal ciduk.

Rakyat kita benar benar Indonesia banget, nrimo ing pandum sepi ing pamrih, rame ing gawe, mangan ora mangan ngumpul Nrimo ing pandum artinya menerima apa adanya diperlakukan apapun nrimo alias pasrah, berani protes, harus berhadapan dengan UU IT ujaran kebencian, perbuatan tidak menyenangkan Sepi Ing Pamrih, ga pernah berharap apapun, sudah prustasi, pasrah yang bisa dikerjakan dikerjakan yang tidak bisa ya diam saja , terima apa adanya.

Rame ing gawe, brisik di medsos hanya itu yang bisa dilakukan, untunglah ada medsos, mungkin kalau tidak ada medsos, tidak ada penyaluran hasrat, bisa pada gila he he he….

Mangan ora mangan ngumpul, hidupnya sudah tenang, makan dan minum susu gratis, kalau masih kurang tinggal tunggu bansos.

Rakyat juga sudah terbiasa hidup mandiri, siapapun pemimpinnya tidak ada pengaruhnya, punya wakil rakyat pun apakah mereka benar benar mewakili rakyat, rakyat benar- benar mandiri, kalau tidak kerja banting tulang sendiri siapa yang akan memikirkan kehidupan keluarganya.

Bukan kah……konsep Pembangunan adalah membangun manusia seutuhnya, jadi betul betul utuh rakyat ini menjadi obyek dan korban pembangunan.

Sekedar gambaran, bisa benar bisa salah, namanya juga cuma gambaran, tidak ditujukan untuk siapapun, boleh dibaca boleh tidak, didelatepun boleh,…. Gitu saja ko repot……

 Penulis Adalah: Pemerhati Maslah Sosial

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru