Saturday, June 15, 2024
BerandaBerita UtamaRombongan Diplomat Indonesia dan ASEAN Ditembaki Kelompok Bersenjata di Myanmar

Rombongan Diplomat Indonesia dan ASEAN Ditembaki Kelompok Bersenjata di Myanmar

progresifjaya.id, JAKARTA – Rombongan ASEAN yang terdiri dari diplomat Indonesia dan Singapura ditembaki kelompok bersenjata di Negara Bagian Shan, Myanmar Selatan.

Rombongan tersebut tengah dalam perjalanan ke kantor penghubung Tentara Pembebasan Nasional Pa-O (PNLO) untuk mendiskusikan penyaluran bantuan bagi pengungsi. Namun di tengah jalan mereka dipaksa untuk putar balik. Tidak ada yang terluka dalam penembakan tersebut dan belum jelas siapa yang bertanggung jawab. Pihak PNLO mengatakan mereka sedang menyelidikinya.

Diplomat dari KBRI Yangon menolak berkomentar lebih lanjut kepada BBC News Indonesia mengenai insiden ini.

Namun, BBC Burmese melaporkan bahwa rombongan ASEAN yang ditembaki terdiri dari diplomat dari KBRI Yangon, diplomat dari Kedubes Singapura, serta sejumlah staf dari Pusat Koordinasi Bantuan Kemanusiaan ASEAN (AHA Center).

Presiden Joko Widodo, yang tahun ini mendapat giliran menjadi ketua ASEAN, mengonfirmasi bahwa tim AHA Center beserta tim pemantau ASEAN mengalami “baku tembak” saat hendak menyerahkan bantuan kemanusiaan.

Presiden Jokowi menegaskan bahwa penembakan tersebut tidak menyurutkan tekad ASEAN dan Indonesia untuk menyerukan kembali penghentian kekerasan.
Stop using forcestop violence, karena rakyat yang akan jadi korban,” kata Presiden Jokowi di Labuan Bajo, menjelang KTT ASEAN tanggal 10 Mei mendatang.

Penyaluran bantuan dilakukan AHA Center bersama Peace Process Steering Team (PPST), yang terdiri dari 10 kelompok bersenjata etnis. PNLO adalah salah satu anggotanya.

Sementara itu, Pemerintahan Persatuan Nasional (NUG) – pemerintah bayangan yang terdiri dari para anggota pemerintah sipil yang disingkirkan oleh junta militer Myanmar – mengatakan insiden penembakan terhadap rombongan ASEAN tidak ada hubungannya dengan kubu penentang junta termasuk Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF), sayap bersenjata NUG.

Sebagai bagian dari intervensi ASEAN untuk mengatasi krisis di Myanmar, AHA Center telah bekerja sama dengan pemerintahan militer untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada rakyat Myanmar.

Ini merupakan bagian dari lima poin konsensus yang disepakati para kepala negara ASEAN dengan pemimpin junta militer Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing, pada 2021.

Bantuan seperti vaksin Covid telah diberikan kepada Myanmar melalui AHA Center sejak tahun lalu.

Sementara itu, Indonesia yang tahun ini mendapat giliran menjadi ketua ASEAN telah diam-diam berdiskusi dengan Dewan Administrasi Negara – sebutan formal untuk rezim junta – serta pemerintahan bayangan pro-demokrasi, dan tentara etnis minoritas.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan kepada kantor berita Reuters pihaknya telah melakukan lebih dari 60 dialog tahun ini, termasuk diskusi dengan Uni Eropa, Jepang, PBB, dan Amerika Serikat.

“Indonesia menggunakan diplomasi non-megafon, tujuannya untuk membangun kepercayaan dengan semua pemangku kepentingan, sehingga mereka mau bicara kepada kita,” kata Retno dalam konferensi pers, Jumat (5/5).

“Diplomasi diam-diam tidak berarti kita tidak melakukan apa-apa. Faktanya, dalam empat bulan, Indonesia telah melakukan banyak hal.”

Presiden Jokowi mengatakan Indonesia sebagai ketua ASEAN terus mendorong implementasi dari Lima Poin Konsensus, yang disepakati oleh sembilan pemimpin ASEAN dan pemimpin junta Myanmar, Jenderal Min Aung Hlaing pada pertemuan tingkat tinggi di Jakarta, 24 April 2021.

Lima poin itu ialah: penghentian kekerasan di Myanmar; dialog antara semua pemangku kepentingan; penunjukan utusan khusus; mengizinkan bantuan kemanusiaan oleh ASEAN; serta membuka akses bagi utusan khusus ASEAN untuk bertemu dengan semua pemangku kepentingan di Myanmar. (Ndy/BBC Indonesia/Reuters)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru