Minggu, November 28, 2021
BerandaBerita UtamaSingapura Terancam Gelap Gulita, Pasokan Gas Murah Indonesia Dituduh Jadi Penyebabnya

Singapura Terancam Gelap Gulita, Pasokan Gas Murah Indonesia Dituduh Jadi Penyebabnya

progresifjaya.id, JAKARTA – Berita ekonomi di media massa dalam dan luar negeri belakangan banyak menyoroti masalah krisis energi yang menimpa negara tetangga Singapura.

Rupanya peran Indonesia sangat penting di sini, sebab pasokan gas negara dengan brand patung Singa itu disuplai dari kilang gas Natuna dan Grissik di Sumatera Selatan (Sumsel) melalui pipa bawah laut.

Krisis energi yang melanda Singapura bisa menyebabkan negara kecil tersebut gelap gulita, karena gas menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik di sana. Sedangkan pasokan gas untuk itu 60 persen dari Indonesia.

Namun, Singapura tetap aman dan bisa terus memasok gas dari Indonesia sampai lima tahun ke depan, karena kontrak kerjanya baru berakhir tahun 2028.

Artinya, pasokan gas tetap harus dipenuhi Indonesia, meski harganya murah dibanding dengan gas alam cair (LNG) di pasaran.

Krisis energi yang terjadi di Singapura itu karena ada masalah pasokan gas di tengah lonjakan permintaan dan harga gas global, disamping sempat adanya gangguan impor gas dari Indonesia yang dituduh jadi salah satu faktor penyebabnya.

Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI), Yusri Usman mengakui Singapura memang sangat tergantung dengan pasokan gas dari Indonesia melalui pipa. Setidaknya ada tiga kontrak ekspor gas Tanah Air ke negara tetangga itu dengan pasokan minimal sekitar 700 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).

Berdasarkan data BP Statistical Review 2021, konsumsi gas alam Singapura pada 2020 sekitar 1,22 miliar kaki kubik per hari (BCFD). Itu artinya, hampir 60% pasokan gas-nya berasal dari Indonesia.

“Singapura sangat tergantung dengan pasokan gas dari Indonesia, yakni gas dari Natuna dan Grissik Sumsel, semua dengan sistem pipa,” kata Yusri kepada detikcom tempo hari.

Yusri menjelaskan Singapura relatif sulit mencari pengganti pemasok gas pipa selain dari Indonesia. Bisa saja menggantinya dengan bentuk gas alam cair (LNG), tetapi itu harganya lebih mahal.

“Singapura bisa saja cari pemasok dari negara lain dengan bentuk LNG, tetapi beli gas dengan sistem pipa jauh lebih murah, sehingga tetap saja Singapura membeli gas dari Indonesia melalui pipa menjadi prioritas utama mereka,” terangnya.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Direktur Eksekutif Energy Watch, Mamit Setiawan. Meskipun dalam kondisi terdesak bisa saja Singapura mencari pemasok lain dan mengesampingkan harga yang lebih mahal.

“Singapura jika dalam kondisi terdesak mereka akan membeli LNG dari pasar spot mengingat mereka memiliki fasilitas regasifikasi di sana. Memang mereka pasti terkendala dengan harga di mana harga LNG di pasar spot saat ini cukup tinggi jika dibandingkan mereka membeli gas dari Indonesia,” jelasnya.

Meski begitu, hal itu dinilai tidak akan mengancam posisi Indonesia sebagai pemasok terbesar ke Singapura. Pasalnya kontrak gas yang telah disepakati kedua negara itu cukup panjang.

“Sampai sejauh ini saya kira kontrak kita masih cukup panjang dengan Singapura seperti kontrak ke GSPL (Gas Supply Pte Ltd) yang akan berakhir 2023, kontrak ke SembGas (SembCorp Gas) yang akan berakhir 2028. Jadi saya kira kontrak kita cukup aman,” tandasnya.

Sebelumnya diberitakan Singapura terancam gelap gulita karena krisis energi yang menghantuinya. Sejumlah perusahaan penyedia listrik di negara tetangga Indonesia itu kini bertumbangan.

Indonesia bisa jadi faktor penyebabnya karena pasokan gas alam ke Singapura dari Tanah Air belum sepenuhnya pulih sejak mengalami gangguan pada Juli.

Oleh karenanya gangguan pasokan gas di Indonesia telah berkontribusi pada lonjakan harga listrik.

Penulis/Editor: Isa Gautama

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru