Monday, July 15, 2024
BerandaBerita UtamaTes PCR Rp 275 Ribu, Warganet: Ada Dugaan Jadi Ajang Bisnis, Kenapa...

Tes PCR Rp 275 Ribu, Warganet: Ada Dugaan Jadi Ajang Bisnis, Kenapa Nggak Saat Awal Pendemi Diturunkan

progresifjaya.id, JAKARTA – Inilah hebatnya Presiden Joko Widodo. Selalu tanggap yang diinginkan rakyatnya. Protes masyarakat selalu  dicarikan solusi dan hasilnya tentu bisa dilihat setelah presiden mengambil tindakan dan keputusan.

Seperti tes Polymerasi Chain Reaction (PCR) yang marak mendapat protes, karena diwajibkan kepada  penumpang pesawat udara. Salah satu poin yang banyak diprotes, tes PCR masih mahal hingga membebani para penumpang yang ingin terbang dengan transportasi udara.

Nah, rupanya presiden gerah juga dengan komentar-komentar dan cuitan di media sosial.

Apalagi Ketua DPR-RI, Puan Maharani  mempertanyakan juga masalah tes PCR itu. Secara gamblang Puan yang perentasinya mewakili rakyat, memprotes pemerintah tentang kewajiban penumpang harus tes negatif Covid 19 dengan PCR.

Tidak Pake Lama – Istilah Kapolri Listyo Sigit Prabowo meminta jajarannya yang salahi aturan dan hukum ditindak tegas – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) langsung menurunkan harga tes PCR menjadi Rp 275.000 sampai Rp 300.000, setelah Presiden Jokowi minta agar tes PCR itu diturunkan seharga Rp 300.000.

Pemerintah sebenarnya sudah dua kali menurunkan harga tes PCR ini, dari Rp 2 juta – 1,5 juta jadi Rp 900 ribu dan turun lagi jadi sekitar Rp 500 ribuan. Terakhir sekarang menjadi Rp 300 ribuan dan mungkin besok-besok diprediksi bisa Rp 100 ribu.

Meski harga tes PCR, belum bisa murah seperti di India yang berkisar Rp 160 ribuan, namun menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin tarif PCR yang turun sampai Rp 275 ribu sudah termurah dibanding tes semacam itu di Bandara seluruh dunia.

Sedangkan di harga Rp 500 ribu saja, Indonesia dirasakan sudah paling murah dibanding negera-negara lain.

Tapi yang jadi pertanyaan, mengapa sebelumnya tes PCR sangat mahal? Saat awal-awal pandemi tes PCR dibandrol sampai Rp 3 juta dan yang msnyelenggarakannya juga rumah-rumah sakit elite atau mewah. Tentu saja, hanya masyarakat kalangan atas yang mampu dan bisa mendapatkannya.

Belakangan, harganya turun sampai Rp 2 juta, turun lagi 1,5 juta dan turun lagi Rp 1 juta sampai Rp 900 ribu.

Di angka Rp 900 ribu ini baru pemerintah turun tangan dan minta diturunkan lagi jadi Rp 500 ribu. Sekarang sudah menjadi Rp 300 ribuan dan ini dirasakan masyarakat mampu melakukan tes cepat dan akurat sebagai syarat terbang.

Tampaknya presiden juga mengamati dengan seksama harga PCR tersebut yang begitu mahal pada awalnya. Mungkin juga presiden tahu, sebenarnya bisa dipangkas lebih murah semurah-murahnya. Dan ini terbukti bisa dan sekarang cuma Rp 275 ribu saja untuk di Jawa dan Bali.

Berarti, mahalnya tes PCR diduga sesuatu yang patut dicurigai adanya ‘permainan’ hingga tes PCR ini dijadikan ladang bisnis. Mengapa selama ini para pengusaha laboratorium jasa tes PCR mengambil untung begitu besar.

Ini yang menjadi pertanyaan mendasar. Sebenarnya memang tidak masuk akal, padahal keuntungan 100 persen dari harga pokok produksi saja sudah memadai dan dianggap hebat.

Jawaban yang paling sederhana saja, adanya kemungkinan tips dan deretribusi atau pemerataan hasil. Seperti ada adagium yang menyebutkan, dalam suatu musibah selalu ada peluang.

Namun Dirjen Pelayanan Kesehatan Kemenkes, Abdul Kadir berkilah turunnya tarif PCR karena adanya evaluasi, diantaranya dari komponen jasa, komponen habis pakai, overhead dan biaya lainnya yang disesuaikan.

Dari hasil evaluasi tersebut, Kemenkes sepakat untuk menurunkan harga PCR menjadi Rp275 ribu untuk wilayah Jawa dan Bali. Sedangkan untuk di luar Jawa dan Bali, ditetapkan  Rp300 ribu.

Senada dengan Abdul Kadir, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, tarif tes PCR bergantung pada kondisi pasar dan dievaluasi sesuai dengan perkembangannya.

Dia tidak menyebutkan mengapa pada awal-awal pandemi Covif 19 tarifnya begitu mahal.

Akhirnya, ke bijakan pemerintah yang menurunkan tarif maksimal tes PCR mulai Rabu (27/10) ramai menuai berbagai komentar di medsos. Meski sudah ada penjelasan dari para pejabat Kemenkes, tapi tetap saja komentar-komentar miring berseliweran.

Warga memperanyakan mengapa turunnya harga tes PCR menjadi Rp 300.000 tidak ditetapkan sejak awal. Banyak netizen juga menghitung-hitung keuntungan yang sudah didapatkan penyedia jasa tes PCR ketika harga di kisaran Rp 900.000.

“Mereka membayangkan keuntungan yang diperoleh, karena hampir setahun harganya bertahan di 900.000. Yah sudah tentu fantastis lah,”sebutnya.

Penulis/Editor: Isa Gautama

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru