Monday, July 15, 2024
BerandaOlahragaTim Gowes Lansia dari Jakarta Jalani Etape 5 dari Kota Ghent ke...

Tim Gowes Lansia dari Jakarta Jalani Etape 5 dari Kota Ghent ke Brussel, Ibu Kota Belgia

progresifjaya.id, JAKARTA – Tim gowes dari Jakarta yang mengikuti sebagai penggembira Tour De France merasakan etape ke 5 sebagai rute sangat menyenangkan dibanding 4 rute sebelumnya. Etape ke lima menjalani rute dari Kota Ghent menuju Brussel, Ibu Kota Belgia.

Menyenangkanya etape ke 5 ini, menurut  H. Sudarman, pesepeda  yang berusia 70 tahun ini, karena sejak  start gowes jam 08.00 pagi dari depan Hotel Ibis kota Ghent cuaca mendung tidak panas. Kedua tidak ada tanjakan dan ketiga singgah makan siang di restoran orang Turki dengan makanan kebab yang sangat enak.

“Jalur yang kami lalui juga mulus dan teratur spesial jalur khusus sepeda,” kata H. Sudarman sambil menambahkan, memang orang Belgia terkenal sangat ramah dan familiar dibanding orang Perancis meski lebih separuh penduduk Belgia berbahasa Perancis.

Tim gowes start etape ke lima terdiri dari Sudarman Ade, Fatahangi, Andang Hendar, Anton Bangun, Laksda TNI (Purn) Puguh Santoso, Abdul Rauf, Subhan dan Buche.

Keluarkan Kamera Canggih

Ada hal menarik dan sedikit lucu yang dilakukan teman-teman peserta gowes begitu memasuki kota Brussel. Tanpa dikomando dan tanpa aba-aba mereka serentak mengeluarkan kamera terbaiknya untuk mengabadikan momen penting yang dilaluinya.

Ada kamera insta 360 yang canggih, ada handphone keluaran terbaru dari merek-merek terkenal berharga mahal dan handphone dari China keluaran terkini, semua berlomba mengambil foto dan video langsung di upload ke medsos dan dikirin ke WA grup keluarga.

Di wajah para peserta, gowes jarak jauh ini sama sekali tidak tampak rasa kelelahan. Yang ada rasa gembira. Saat masuk finis di Brussels pada etape ke 5 ini, meski usia mereka rata rata di atas 60-an tahun bahkan ada yang 70 tahun namun spiritnya tetap semangat 45. Tidak kalah dengan ABG yang lagi kasmaran. Sakin senangnya tiba di Brussel, semua gaya dikeluarkan sambil selfi.

Gowes Jalan Sebelah Kiri

Begitu melihat Hotel SIRU dari kejauhan yang menjulang tinggi di pusat kota Brussel tempat untuk menginap satu malam yang keesokan harinya akan melanjutkan lagi gowes jarak jauh ke Jerman, ada yang lupa kalau di Eropa itu menggunakan jalan di jalur sebelah kanan.

Mungkin mikirnya masih di Indonesia, sehingga terjadi sedikit insiden kecil menabrak ibu-ibu yang lagi bersepeda di jalur kanan juga. Ibu itu ketawa dan maklum bahwa rombongan kami ini pendatang yang ikut meramaikan Tour de France yang lagi berlangsung.

Kunci Kamar Hotel Hanya Nomor

Begitu memasuki hotel dan melaporkan diri ke resepsionis dan masing-masing diberikan dari kertas kecil lebih kecil dari KTP tipis lagi. Hanya tertulis nomor kamar dan ada angka 6 digit.

“Setelah kertas itu diterima, kami tercengang. Mana kunci kamarnya? Sedangkan yang diberikan hanya nomor kamar,” kata H. Sudarman menuturkan.

Selanjutnya mereka minta kunci pada resepsionis. Katanya, itulah kuncinya. Coba saja ke kamar sana gunakan nomor itu. Sambil tertawa mereka membuka kamarnya masing-masing dengan kertas tipis itu.

“Kami lupa kalau sekarang hotel-hotel mewah sudah menggunakan nomor untuk buka pintu kamar. Alhamdulillah aman bisa dibuka,” ujar H. Sudarman.

Dinner di Luar

Dengan rasa syukur yang tinggi dan hati senang peserta gantian mentraktir di restoran terkenal untuk makan malam. Mereka balas dendam karena waktu gowes ratusan kilometer pada siang hari hanya mampir makan di restoran seadanya dan tidak banyak pilihan.

Namun di Eropa, rata-rata restoran punya standar mutu yang bagus meski itu hanya di kota kecil tetapi bersih tempatnya dengan harga relatif terjangkau sekitar 15-18 euro per orang tentu masakan Barat.

Indomie Jadi Barang Berharga

Setelah satu minggu berada dan gowes di Eropa sudah melintasi dua negara yaitu Perancis dan Belgia yang mana setiap hari mulai sarapan pagi di hotel hanya ketemu roti, salmon dan salad ala Eropa. Hal ini membuat perut kami kaget dan sedikit bosan, sehingga pada malam hari menjelang subuh, maklum malam cuma 5 jam dan siang hari hampir 17 jam, sehingga kami pada saling tanya, siapa yang bawa indomie?

Tentu peserta tidak lupa menyisipkan beberapa bungkus mie instan di kopernya sebelum berangkat. Dan ternyata mie instan ini jadi pilihan satu satunya. Demikian cerita  H. Sudarman.

Editor: Erwan Mayulu

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru