Monday, July 22, 2024
BerandaOpiniUNTUNG TIDAK JADI KETUA KPU………….?

UNTUNG TIDAK JADI KETUA KPU………….?

Ditulis oleh: Dr.,Drs. Mukhtadi El Harry, MM.,M.Sc

 Bukti kesungguhan saya ingin memperbaiki kehidupan berbangsa dan bernegara, maka sebagai warga Negara saya ikut seleksi Calon Pimpinan KPU (Komisi Pemilihan Umum), periode 2022-2027, dan tahun  sebelumnyapun sempat mengikuti hal yang sama. Dua kali ikut seleksi Calon Pimpinan KPU………….

Kalau dari materi seleksinya standar, tidak ada yang diluar jangkauan, karena sudah yang ke dua kalinya, maka semua tahapan seleksi mampu dilalui dengan lancar.

Dr.,Drs. Mukhtadi saat mengikuti Test Tertulis dan Test Psikologi Calon Anggota Bawaslu masa bhakti, 2022-2027. (Foto Dokumen Pribadi. Saat Seleksi KPU 2022)

Tapi pertanyaannya kenapa tidak lolos……, kalau itu saya tidak bisa menjawab, cuma banyak yang bilang, kalau jabatan seperti itu, sudah jabatan politis, kelulusannya tidak hanya ditentukan berdasarkan materi test semata, tapi pertimbangan politis lebih dominan, jadi jangan harap orang yang murni test bisa lulus.

Saya tidak bisa mengomentari atas pernyataan itu, yang jelas sebagai anak bangsa sudah mengikuti proses seleksi tapi tidak lulus…… dan yang lulus serta terpilih sebagai Ketua KPU itu, Bapak Hasyim Asy’ari.

Beliau sekarang sedang bertugas sebagai Ketua KPU, tentunya saat ini beliau sedang super sibuk sebagai, di pundaknyalah keberhasilan Pemilu dipertaruhkan.

Kalau dilihat jabatannya sangat prestisius, saat ini hampir seluruh rakyat Indonesia mengenal dan membicarakan beliau. Tapi dibalik itu tugas yang diemban pun tentunya sangat berat membutuhkan stamina, konsentrasi, pemikiran secara physic maupun psychis.

Belum lagi menghadapi sorotan masyarakat yang dialamtakan ke KPU tentunya menjadi beban tersendiri. Itulah Resiko Jabatan.

Dokumen Pribadi, Suasana Test KPU (ist)

Kenapa saya ikut seleksi Pimpinan KPU…., niat awal bukan untuk jabatan semata, hemat saya kalau ingin memperbaiki kualitas Pemilu, tidak hanya rajin mengkritisi saja, tapi harus terjun langsung, maka cara yang saya tempuh adalah mengikuti seleksi KPU.

Melalui KPU lah saya ingin berbakti secara langsung dan kongkrit memperbaiki kinerja KPU dalam penyelenggaraan Pemilu. Tapi sayangnya meskipun sudah berusaha sampai dua kali tapi Allah menentukan lain, saya belum lulus dan belum pernah mewujudkan niatku untuk memperbaiki kualitas pemilu.

Kalau kita menyaksikan kejadian seperti sekarang dalam batinku menangis, kenapa niat ku belum Engkau kabulkan, sementara saya menyaksikan kualitas Pemilu seperti sekarang ini.

Ternyata niat baik saja tidak cukup, dalam hidup ada faktor lain diluar kemampuan dan jangkauan kita…..Allah SWT Maha Tahu Segala NYA….!!! (Pemerhati Sosial). (*)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru