Sabtu, Desember 10, 2022
BerandaBerita UtamaWarga Cimahi dan Bandung Barat Siap-siap Kencangkan Ikat Pinggang, Tarif Air Bersih...

Warga Cimahi dan Bandung Barat Siap-siap Kencangkan Ikat Pinggang, Tarif Air Bersih Juga Naik

progresifjaya.id, CIMAHI – Warga di Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat (KBB) mesti mengencangkan ikat pinggang lagi. Usai kenaikan BBM, kini pelanggan Perumda Air Minum Tirta Raharja dihadapkan pada kenaikan tarif air minum.

Kenaikan tarif air tersebut sebesar 20 persen berlaku sejak September 2022 ini. Kenaikan tarif itu didasarkan pada kondisi operasional perusahaan yang meningkat, karena dengan kenaikan BBM berdampak juga terhadap kenaikan biaya operasional perusahaan.

Direktur Operasional Perumda Air Minum Tirta Raharja, Teddy Setiabudi mengatakan kenaikan tarif itu dipastikan sesuai dengan kemampuan semua pelanggan mengacu pada besaran upah minimum provinsi (UMP).

“Saat ini ada penyesuaian tarif rata-rata dikisaran 20 persen karena kebutuhan operasional baik itu bahan kimia produksi atau biaya lainnya relatif semakin meningkat,” kata Teddy kepada wartawan, Kamis (22/9/2022).
Teddy mengatakan, kenaikan tarif didasarkan pada jenis tarif rendah (rumah tinggal sederhana), tarif dasar (rumah tinggal menengah), dan tarif penuh (rumah tinggal besar). Tarif rendah sejak 2017 mencapai Rp 2.400 per meter kubik, saat ini naik jadi Rp 3.500 per meter kubik.

Sedangkan tarif dasar yang semula Rp 4.700 per meter kubik jadi Rp 7.100 per meter kubik. Sedangkan tarif penuh yang semula Rp 7.100 per meter kubik jadi Rp 9.500 per meter kubik.

“Saat ini kami memiliki sekitar 82 ribu pelanggan di wilayah Kabupaten Bandung, 15 ribu pelanggan di Kota Cimahi, dan 11 ribu pelanggan di Kabupaten Bandung Barat,” ucap Teddy.

Penyesuaian tarif ini juga sudah memenuhi keadilan pelanggan karena diterapkan melalui pengenaan tarif diferensiasi atau subsidi silang antarkelompok pelanggan supaya mampu mengoptimalkan penghematan penggunaan air.

“Mutu pelayanan juga dilakukan melalui penetapan tarif yang mempertimbangkan keseimbangan dengan tingkat mutu pelayanan,” kata Teddy.

Seorang pelanggan asal Leuwigajah Cimahi, Lilis Sukmawati (56) mengatakan keberatan dengan kenaikan tarif air minum karena saat ini sudah banyak terjadi kenaikan harga, dari mulai BBM, gas, hingga sembako.
“Kalau musim kemarau aliran air ke daerah Cimahi Selatan itu biasanya mati. Kalau kemarau tahun ini airnya memang enggak mati karena masih tetap ada hujan,” ujar Lilis. (Wan/Dindin)

Artikel Terkait

Berita Populer

komentar terbaru